KASURAU - 1994. “Ustadz. Ini uangnya. Alhamdulillah, annida dan sabili nya habis semua. Tarbawi dan anak sholeh banyak yang pesan Ustadz. Kalau yang lain kurang laku”. Seperti bIasa, setIap akhir bulan, Simol menjemput majalah edisi baru ke Ustadznya. Sore itu lidah Simol kelu. Ia masih ciut untuk meminjam sebagIan uang setoran itu. Simol butuh uang itu. Amat butuh. Untuk membeli mutoh, mesin gambar. Simol khawatir, kalau jadi Ia membeli mesin itu. Ia bakal banyak mendapat orderan gambar dan tidak bisa mengantarkan majalah lagi. Simol merasa dirinya bukan bagIan dari dakwah lagi. Apalagi Simol belum dapat juga pengganti tugasnya sebagai loper majalah.
00:52






